TEL AVIV — Iran secara resmi mengonfirmasi peluncuran serangan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, pada dini hari Selasa, 21 April 2026. Insiden ini segera memicu kekhawatiran global mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah setelah otoritas Israel mengonfirmasi sejumlah drone berhasil dicegat dan beberapa lainnya menyebabkan ledakan di sekitar kompleks bandara.
Juru Bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Laksamana Daniel Hagari, dalam konferensi pers darurat menyatakan sistem pertahanan Iron Dome berhasil mencegat mayoritas drone. Namun, ia mengakui adanya kerusakan ringan pada fasilitas kargo bandara serta di area perimeter luar. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini.
Teheran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim serangan tersebut sebagai respons atas "agresi berulang" Israel terhadap kepentingan Iran di kawasan, termasuk serangan siber dan pembunuhan ilmuwan. Pernyataan resmi IRGC menekankan bahwa serangan ini "hanyalah peringatan awal" atas kapasitas militer mereka.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menjadwalkan pertemuan darurat. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyerukan semua pihak menahan diri demi mencegah perang skala penuh yang berpotensi menghancurkan stabilitas regional.
Serangan drone ini menyebabkan penutupan sementara Bandara Ben Gurion selama beberapa jam, memengaruhi jadwal ratusan penerbangan domestik dan internasional. Ribuan penumpang terlantar, menciptakan kekacauan logistik yang signifikan.
Dr. Mira Chen, analis geopolitik dari Universitas Tel Aviv, menjelaskan serangan ini menandai pergeseran taktik Iran. "Penggunaan drone untuk menargetkan infrastruktur sipil vital seperti bandara menunjukkan peningkatan ambisi Iran untuk mempermalukan Israel dan menunjukkan jangkauan kapabilitas militer mereka, melewati sekadar proxy regional," ujarnya.
Eskalasi ini terjadi setelah berminggu-minggu ketegangan yang memburuk, termasuk laporan serangan balasan siber dari kedua negara dan manuver militer di perbatasan. Kedua negara telah lama terlibat dalam perang bayangan yang kini tampaknya beralih ke konfrontasi lebih terbuka.
Amerika Serikat, sekutu utama Israel, mengutuk keras serangan tersebut. Juru Bicara Gedung Putih, Karine Jean-Pierre, menegaskan Washington "berdiri teguh bersama Israel dalam menghadapi agresi tidak beralasan ini" dan akan "memastikan Israel memiliki semua yang dibutuhkan untuk mempertahankan diri."
Negara-negara Arab di Teluk, yang beberapa di antaranya telah menormalisasi hubungan dengan Israel, menyatakan kekhawatiran mendalam. Mereka mendesak kedua belah pihak untuk meredakan ketegangan dan kembali ke meja perundingan, khawatir akan dampak destabilisasi yang lebih luas.
Para pengamat memprediksi insiden ini akan meningkatkan tekanan global untuk de-eskalasi, namun juga berpotensi memicu balasan dari Israel. Kekhawatiran terbesar adalah kemungkinan lingkaran kekerasan yang sulit dihentikan, menyeret kawasan ke dalam konflik yang lebih besar.