WASHINGTON D.C. — Israel secara mengejutkan menolak bergabung dengan Amerika Serikat dalam invasi militer ke Iran, meskipun Yerusalem sebelumnya dituding kuat sebagai pemicu serangkaian serangan udara yang memprovokasi Teheran di awal tahun 2026. Keputusan ini menimbulkan keretakan serius dalam aliansi strategis antara kedua negara, sekaligus mempertaruhkan stabilitas regional di Timur Tengah.
Penolakan yang disampaikan melalui saluran diplomatik tingkat tinggi pekan lalu itu menyusul pengumuman AS untuk memimpin koalisi militer guna melumpuhkan program nuklir Iran. Langkah AS ini diklaim sebagai respons atas peningkatan aktivitas pengayaan uranium Teheran dan agresi di Selat Hormuz, yang ditengarai merupakan balasan atas serangan-serangan sebelumnya terhadap instalasi militer Iran.
Sumber intelijen dari beberapa negara Barat sebelumnya menunjuk Israel sebagai aktor di balik serangan siber dan drone yang menargetkan fasilitas vital Iran, termasuk pusat penelitian nuklir Natanz dan Fordow. Serangan-serangan ini, yang terjadi sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026, memicu kemarahan Teheran dan menyebabkan eskalasi ketegangan drastis.
Menteri Pertahanan Israel, Yohan Ben-Amram, dalam konferensi pers terbatas menyatakan, "Prioritas kami adalah keamanan nasional dan tindakan yang terukur. Keterlibatan langsung dalam invasi skala besar belum tentu merupakan jalur terbaik untuk mencapai tujuan tersebut." Pernyataan ini kontras dengan retorika agresif yang sering dilontarkan Yerusalem terhadap ancaman nuklir Iran.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Dr. Alana Peterson, mengungkapkan kekecewaan Washington atas keputusan Israel. "Kami meyakini bahwa menghadapi ancaman regional memerlukan upaya kolektif dari sekutu-sekutu terdekat kami," ujarnya tanpa merinci konsekuensi diplomatik dari penolakan tersebut.
Pengamat kebijakan luar negeri dari Georgetown University, Profesor David Kim, menyoroti bahwa penolakan Israel mengindikasikan pergeseran taktis. "Yerusalem mungkin tidak ingin ditarik ke dalam perang konvensional berskala penuh yang bisa memakan korban besar, lebih memilih operasi rahasia dan serangan presisi yang selama ini mereka terapkan," jelas Kim.
Keputusan ini berpotensi mengubah dinamika geopolitik kawasan. Negara-negara Arab moderat yang sebelumnya melihat AS dan Israel sebagai penyeimbang pengaruh Iran, kini harus mempertimbangkan kembali posisi mereka. Sebagian mungkin melihat ini sebagai sinyal melemahnya tekad koalisi anti-Iran.
Teheran, melalui kantor berita resmi IRNA, menyambut dingin penolakan Israel. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menegaskan bahwa "Agresi terhadap Iran, dalam bentuk apa pun, akan selalu berhadapan dengan perlawanan sengit, tak peduli siapa pelakunya atau siapa yang tidak ikut serta."
Sejak lama, AS dan Israel berbagi tujuan strategis untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, taktik dan waktu pelaksanaan sering kali menjadi sumber friksi. Penolakan Israel kali ini menjadi salah satu perbedaan paling signifikan yang pernah terjadi dalam sejarah aliansi mereka.
Para analis memprediksi bahwa insiden ini akan memaksa Washington untuk mengkalibrasi ulang strategi intervensinya di Timur Tengah. Tanpa dukungan penuh dari sekutu regional utamanya, potensi keberhasilan invasi militer ke Iran bisa menjadi sangat kompleks dan berisiko tinggi.
Pasar minyak global bereaksi terhadap berita ini. Harga minyak mentah melonjak setelah spekulasi invasi militer, namun sedikit melandai setelah penolakan Israel, meskipun ketidakpastian masih mendominasi karena potensi eskalasi tetap tinggi.
Di internal AS, keputusan ini juga menuai perdebatan sengit. Beberapa anggota kongres mempertanyakan kesiapan dan justifikasi invasi tanpa konsensus penuh dari sekutu, sementara yang lain menyerukan tindakan tegas terhadap ancaman nuklir Iran.