Prancis – Premis bahwa siswa paling berprestasi akan sukses dalam hidup melalui sistem meritokrasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan realita. Saïd Benmouffok, seorang profesor filosofi dan konselor Paris, melalui opininya di harian "Le Monde" pada tahun 2026, secara tajam mengkritik konsep meritokrasi yang ia nilai gagal memperbaiki ketidaksetaraan, bahkan justru melegitimasi serta memperkuatnya secara moral dalam struktur pendidikan. Ia menyoroti bagaimana sistem tersebut hanya menguntungkan kelompok yang sudah memiliki privilese.
Benmouffok berpendapat bahwa meritokrasi, alih-alih menjadi jembatan menuju mobilitas sosial, justru menjelma menjadi alat rekalibrasi moral bagi ketidaksetaraan yang sudah ada. Janji ilusi bahwa kerja keras dan kecerdasan semata akan membawa pada kesuksesan, tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial-ekonomi, dianggap sebagai narasi yang berbahaya. Ini menciptakan ilusi keadilan sembari secara diam-diam mengabadikan hierarki sosial.
Isu ini bukan kali pertama muncul dalam diskursus pendidikan global. Sejak lama, para sosiolog dan filsuf pendidikan mempertanyakan efektivitas meritokrasi dalam menciptakan masyarakat yang benar-benar egaliter. Dalam konteks Prancis, yang menjunjung tinggi nilai-nilai égalité (kesetaraan), kritik seperti ini menemukan resonansi yang kuat di tengah masyarakat.
Dampak langsung dari sistem yang cacat ini terasa pada para siswa. Mereka yang berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi kuat seringkali memiliki akses ke fasilitas pendidikan yang lebih baik, bimbingan tambahan, dan lingkungan yang mendukung. Sementara itu, siswa dari keluarga kurang mampu harus berjuang keras hanya untuk bersaing di level yang sama, seringkali dengan sumber daya terbatas.
Mengutip pernyataan Benmouffok dalam tulisannya, "Meritokrasi tidak mengoreksi ketidaksetaraan, ia mereklasifikasinya secara moral." Kalimat ini menegaskan bahwa sistem tersebut hanya memberikan pembenaran etis atas kegagalan sebagian individu untuk mencapai kesuksesan, menyalahkan mereka atas kekurangan “merit” atau “usaha” mereka, tanpa meninjau akar masalah struktural.
Perdebatan ini muncul bersamaan dengan berbagai reformasi pendidikan yang sedang digalakkan di Prancis. Pemerintah sedang berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan mengurangi angka putus sekolah. Namun, jika fondasi meritokrasi tidak ditinjau ulang, dikhawatirkan reformasi tersebut hanya akan menyentuh permukaan tanpa menyelesaikan masalah inti ketidaksetaraan. Pembahasan mendalam terkait hal ini juga tercermin dalam wacana mengenai tuntutan esai berkualitas di Baccalaureate yang digagas Menteri Pendidikan, seperti diulas dalam artikel "Prancis Guncang Pendidikan 2026: Menteri Tuntut Esai Berkualitas di Baccalaureate".
Benmouffok secara eksplisit menyoroti peran penting latar belakang keluarga. Dalam sistem sekolah yang ada, mereka yang berprestasi cenderung merupakan individu yang sudah diuntungkan sejak awal, baik dari segi kapital budaya, sosial, maupun ekonomi. Ini bukan berarti menafikan usaha individual, melainkan menekankan bahwa medan pertempuran dalam meritokrasi bukanlah medan yang setara.
Kritik ini mendorong perlunya evaluasi ulang komprehensif terhadap prinsip-prinsip yang melandasi sistem pendidikan. Apakah tujuan utamanya adalah mengidentifikasi "yang terbaik" dalam kondisi tidak setara, atau justru menciptakan kondisi di mana setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan mencapai potensi maksimalnya?
Jika dibiarkan, legitimasi moral yang diberikan oleh meritokrasi terhadap ketidaksetaraan dapat memicu fragmentasi sosial yang lebih dalam. Hal ini dapat menimbulkan rasa frustrasi dan alienasi di kalangan mereka yang merasa telah berusaha namun tetap terpinggirkan, sementara kelompok yang diuntungkan merasa bahwa posisi mereka adalah hasil murni dari "merit" pribadi.
Pemerintah Prancis melalui Kementerian Pendidikan Nasional, sebelumnya juga menghadapi kritik terkait kebijakan yang dianggap belum sepenuhnya mengakomodasi semua lapisan masyarakat. Beberapa kelompok mengkhawatirkan dampak kebijakan pendidikan yang terlalu terfokus pada ujian standar dapat memperlebar jurang antara siswa berprestasi dan kurang berprestasi, tanpa mempertimbangkan keragaman kemampuan dan latar belakang, sebuah isu yang relevan dengan diskusi dalam artikel "Edukasi Prancis 2026: Terjebak Reformasi, Gagal Adaptasi Digital?".
Pernyataan Saïd Benmouffok di "Le Monde" pada tahun 2026 ini diharapkan memicu dialog konstruktif di antara pemangku kepentingan pendidikan, para pembuat kebijakan, dan masyarakat luas. Tujuannya adalah merumuskan pendekatan yang lebih inklusif dan adil, yang benar-benar dapat mengatasi kesenjangan, bukan sekadar memberinya label moralitas baru.