WASHINGTON - Gelombang kecemasan terhadap kecerdasan buatan (AI) dilaporkan melonjak drastis di kalangan Generasi Z Amerika Serikat, dengan survei terbaru menunjukkan penurunan antusiasme hingga 14 persen pada tahun 2026. Fenomena ini tidak hanya tergambar dalam angka, tetapi juga termanifestasi dalam atmosfer tegang di berbagai universitas, tempat diskusi seputar teknologi kian sering diwarnai respons negatif, bahkan cemoohan.
Data survei yang dihimpun oleh lembaga riset terkemuka di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Generasi Z, yang notabene adalah penduduk asli digital, kini menghadapi dilema kompleks terkait peran AI dalam kehidupan mereka. Semula dianggap sebagai inovator dan pengadopsi awal, generasi ini kini menunjukkan kekhawatiran mendalam mengenai implikasi AI terhadap masa depan pekerjaan, privasi data, dan potensi penyalahgunaan teknologi.
Fenomena yang paling mencolok terjadi di lingkungan akademis. Berbagai laporan dari kampus-kampus besar Amerika Serikat mengindikasikan bahwa mahasiswa kerap menyikapi presentasi atau diskusi yang menyoroti perkembangan teknologi, terutama AI, dengan sikap skeptis. Bahkan, sejumlah dosen dan pembicara teknologi menceritakan pengalaman dicemooh atau mendapat reaksi dingin ketika memaparkan potensi atau kemajuan AI, sebuah pergeseran drastis dari beberapa tahun sebelumnya.
Profesor Elena Ramirez, seorang sosiolog teknologi dari Universitas California, Berkeley, dalam wawancara eksklusif menyatakan, "Perubahan sentimen ini bukan sekadar tren sesaat. Generasi Z tumbuh di era digital yang penuh janji, namun juga menyaksikan dampak negatif teknologi, mulai dari penyebaran misinformasi hingga ancaman otomatisasi pekerjaan. Mereka lebih pragmatis dan kritis terhadap klaim utopia tentang AI."
Kecemasan tersebut diperparah dengan diskursus publik yang intens mengenai etika AI. Isu-isu seperti bias algoritma, pengawasan massal, dan kemampuan AI untuk menciptakan konten sintetis yang sulit dibedakan dari kenyataan (deepfake) telah memicu perdebatan sengit. Kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi juga menjadi faktor dominan, mengingat banyak anggota Generasi Z yang baru memasuki pasar kerja atau sedang mempersiapkan diri untuk itu.
Pergeseran pandangan ini kontras dengan generasi sebelumnya, terutama Generasi Milenial dan Gen X, yang cenderung lebih optimis terhadap teknologi. Meskipun mereka juga menghadapi tantangan, tingkat penerimaan dan adaptasi terhadap inovasi teknologi pada umumnya lebih tinggi. Generasi Z, dengan pengalaman unik mereka di dunia yang semakin terdigitalisasi, tampaknya memiliki ekspektasi dan kekhawatiran yang berbeda.
Implikasi terhadap sistem pendidikan menjadi krusial. Institusi pendidikan tinggi kini menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan pengajaran tentang kemajuan teknologi dengan penanganan kecemasan mahasiswa. Beberapa universitas mulai memperkenalkan mata kuliah etika AI atau diskusi panel terbuka untuk menampung dan membahas kekhawatiran ini secara konstruktif.
Peran AI dalam membentuk narasi publik dan kampanye politik juga tidak luput dari perhatian. Sebagai contoh, penggunaan video dan foto berbasis AI canggih dalam tren digital oleh sejumlah figur publik telah menunjukkan bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi persepsi publik, menambah lapisan kekhawatiran di kalangan generasi muda. Hal ini sejalan dengan analisis kami sebelumnya mengenai "Tren Digital Trump: Kuasai Narasi dengan Video dan Foto AI Canggih?".
Meski demikian, tidak semua anggota Generasi Z menolak AI sepenuhnya. Sebagian masih melihat potensi AI sebagai alat yang powerful untuk mengatasi masalah global, seperti perubahan iklim atau pengembangan obat-obatan. Namun, mereka menuntut transparansi lebih, akuntabilitas, dan pengembangan AI yang beretika, bukan sekadar kecepatan inovasi.
Pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden pada tahun 2026 juga telah menunjukkan perhatian terhadap isu regulasi AI. Berbagai inisiatif legislatif sedang digodok untuk memastikan bahwa pengembangan dan penerapan AI berjalan seiring dengan perlindungan konsumen dan pekerja, serta meminimalkan risiko sosial.
Jika tren kecemasan ini terus berlanjut tanpa penanganan yang memadai, potensi adopsi dan pengembangan AI di masa depan dapat terhambat. Penting bagi pemangku kepentingan, dari pengembang teknologi hingga pembuat kebijakan, untuk memahami dan mengatasi akar kecemasan Generasi Z guna memastikan kemajuan teknologi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.