Bahaya! Orang Tua Tak Mendongeng Merampas 'Warisan' Tak Ternilai Anak

Chandra Wijayanto Chandra Wijayanto 26 Sep 2026 19:00 WIB
Bahaya! Orang Tua Tak Mendongeng Merampas 'Warisan' Tak Ternilai Anak
Ilustrasi: Bahaya! Orang Tua Tak Mendongeng Merampas 'Warisan' Tak Ternilai Anak

JAKARTA – Sebuah temuan studi mengkhawatirkan mengungkap bahwa sepertiga orang tua secara global diduga menyembunyikan warisan tak ternilai dari anak-anak mereka. Penundaan atau pengabaian kegiatan membacakan buku atau mendongeng sejak dini berpotensi merampas fondasi vital bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak, menimbulkan kerusakan yang hampir tidak dapat diperbaiki. Laporan ini juga menggarisbawahi bagaimana para orang tua juga kehilangan momen berharga dalam membangun ikatan kuat dengan buah hati.

Fenomena ini, meskipun tidak melibatkan warisan materi, justru menghadirkan kerugian yang jauh lebih mendalam. Warisan yang dimaksud adalah stimulasi otak, pengembangan kosakata, peningkatan imajinasi, dan kemampuan empati yang terakumulasi melalui kegiatan mendongeng. Anak-anak yang rutin didongengi cenderung memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik, prestasi akademis yang cemerlang, serta keterampilan sosial yang adaptif.

Mengapa sepertiga orang tua terkesan mengabaikan praktik krusial ini? Berbagai faktor mungkin berperan, mulai dari kesibukan kerja, kurangnya pemahaman tentang pentingnya literasi dini, hingga dominasi perangkat digital yang menggeser interaksi personal. Namun, apapun alasannya, dampak negatif yang ditimbulkan bersifat jangka panjang dan esensial.

Para pakar perkembangan anak menekankan bahwa tahun-tahun awal kehidupan merupakan jendela emas bagi pembentukan jalur saraf otak. Melalui cerita, anak tidak hanya belajar mengenal huruf atau kata, tetapi juga memahami konsep moral, nilai-nilai kehidupan, serta cara menghadapi berbagai emosi. Tanpa paparan ini, potensi intelektual dan emosional mereka dapat terhambat.

Kerugian ini bukan hanya dialami anak. Orang tua juga kehilangan kesempatan emas untuk membangun ikatan emosional yang kuat dengan anak. Momen mendongeng adalah waktu intim di mana orang tua dan anak berbagi tawa, pertanyaan, dan imajinasi, menciptakan kenangan yang tak terlupakan serta memperkuat rasa aman dan kasih sayang. Ini merupakan fondasi bagi kedekatan hubungan keluarga di masa depan.

Dalam konteks pendidikan global, inisiatif untuk meningkatkan literasi dini terus digalakkan. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada partisipasi aktif keluarga, terutama orang tua. Mengingat perkembangan era digital, perhatian terhadap interaksi tatap muka melalui buku fisik menjadi semakin vital.

Pentingnya membacakan buku bagi anak juga pernah disoroti dalam berbagai kesempatan. Profesor Schettini, seorang pakar pendidikan, menyoroti pentingnya kebiasaan membaca sebagai salah satu dari tiga kunci sukses pelajar di tahun 2026. Hal ini menegaskan bahwa fondasi literasi diletakkan sejak usia dini, jauh sebelum anak memasuki jenjang pendidikan formal.

Apabila fondasi literasi dan stimulasi emosional ini diabaikan, dampaknya bisa berujung pada permasalahan perilaku. Sebagai contoh, insiden di Lecce di mana bocah 6 tahun membawa pisau ke sekolah, bisa menjadi alarm bahwa ada kebutuhan mendalam akan perhatian dan bimbingan emosional yang terlewatkan di masa pertumbuhan awal. Meskipun tidak secara langsung terkait dengan absennya dongeng, kurangnya interaksi berkualitas dapat memengaruhi kestabilan emosi anak.

Pemerintah dan lembaga pendidikan di berbagai negara perlu secara masif mengkampanyekan kembali pentingnya literasi keluarga. Program-program pelatihan bagi orang tua tentang cara mendongeng yang efektif dan menarik juga menjadi kebutuhan mendesak. Serta, penyediaan akses buku bacaan yang mudah dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

Masa depan suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas generasinya. Jika sepertiga dari generasi mendatang dirampas haknya atas warisan pengembangan diri yang fundamental ini, dampaknya akan terasa luas pada kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan kemajuan sosial.

Ini adalah panggilan serius bagi setiap orang tua untuk merenungkan kembali prioritas mereka. Hanya dengan meluangkan waktu, bahkan hanya 15-20 menit setiap hari, untuk mendongeng, mereka dapat memberikan investasi terbesar dan paling berharga bagi masa depan anak-anak mereka. Sebuah investasi yang jauh melampaui nilai materi.

Analisis Redaksi:

Fenomena ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan pergeseran nilai dalam pengasuhan modern. Tekanan hidup yang tinggi, penetrasi teknologi, dan minimnya edukasi pengasuhan seringkali membuat orang tua abai terhadap praktik fundamental seperti mendongeng. Kerugian warisan tak ternilai ini akan menciptakan generasi dengan kapasitas kognitif dan emosional yang kurang optimal, berpotensi menurunkan daya saing dan kohesi sosial di masa mendatang. Perlu ada intervensi sistematis dari berbagai pihak, bukan hanya edukasi, tetapi juga penciptaan ekosistem yang mendukung praktik literasi keluarga secara berkelanjutan.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.welt.de
Chandra Wijayanto

Tentang Penulis

Chandra Wijayanto

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad