BELGRADO – Ratusan pendukung memenuhi area luar sebuah gereja di Belgrado, Serbia, pada tahun 2026, untuk menghadiri pemakaman mendiang Ratko Mladic. Mereka dengan terang-terangan menunjukkan dukungan kepada sosok yang dikenal sebagai 'Jaggal Balkan' tersebut, meski telah divonis bersalah atas kejahatan genosida dan kemanusiaan. Pemandangan tersebut menjadi sorotan global, memperlihatkan betapa mendalamnya polarisasi pandangan terhadap sejarah kelam konflik Yugoslavia.
Para pelayat yang hadir tampak mengenakan kaus bergambar Mladic, mengibarkan bendera Serbia, dan membentangkan spanduk-spanduk berisi pujian. Atmosfer di sekitar gereja sarat dengan sentimen nasionalisme, seolah mengabaikan keputusan hukum internasional yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepadanya.
Ratko Mladic, mantan komandan militer Serbia Bosnia, merupakan salah satu tokoh sentral dalam Perang Bosnia pada dekade 1990-an. Pengadilan Kriminal Internasional untuk bekas Yugoslavia (ICTY) di Den Haag telah menyatakan Mladic bersalah atas genosida di Srebrenica, penganiayaan, pembunuhan, deportasi, dan kejahatan lain terhadap kemanusiaan.
Vonis tersebut dikukuhkan oleh Mekanisme Residual Internasional untuk Pengadilan Kriminal (IRMCT) pada tahun 2021, menegaskan perannya dalam pengepungan Sarajevo yang menewaskan ribuan warga sipil serta pembantaian lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia di Srebrenica pada tahun 1995. Keputusan ini secara luas dianggap sebagai tonggak penting dalam keadilan internasional.
Namun, bagi sebagian warga Serbia, khususnya mereka yang memiliki pandangan nasionalis ekstrem, Mladic tetap dianggap sebagai patriot yang membela rakyatnya. Publikasi semacam ini seringkali menimbulkan perdebatan sengit tentang bagaimana sebuah bangsa menghadapi masa lalu yang penuh konflik dan kekerasan, serta bagaimana memori kolektif dibentuk.
Demonstrasi dukungan publik semacam ini bukan kejadian langka di Serbia dan wilayah sekitarnya. Sejarah Balkan yang kompleks seringkali memunculkan tokoh-tokoh kontroversial yang bagi satu kelompok adalah penjahat perang, sementara bagi kelompok lain adalah pahlawan nasional. Situasi ini menunjukkan luka yang belum sepenuhnya pulih di wilayah tersebut.
Kehadiran massa yang memuja Mladic juga berpotensi memicu ketegangan diplomatik dan politik di kawasan. Negara-negara tetangga yang menjadi korban kekejaman perang, serta komunitas internasional, seringkali mengutuk keras setiap bentuk glorifikasi terhadap pelaku kejahatan perang.
Meski demikian, pihak berwenang Serbia harus menyeimbangkan antara kebebasan berekspresi dan menjaga ketertiban umum. Pengelolaan situasi di sekitar pemakaman membutuhkan kehati-hatian ekstra agar tidak memperkeruh suasana yang sudah sensitif.
Pemandangan di Belgrado tersebut menggarisbawahi tantangan berkelanjutan dalam proses rekonsiliasi pascakonflik di Balkan. Upaya untuk membangun perdamaian abadi dan keadilan seringkali terhambat oleh perbedaan interpretasi sejarah dan resistensi terhadap pengakuan kejahatan masa lalu.
Kasus Mladic menjadi cerminan nyata bahwa ingatan kolektif seringkali terfragmentasi, memisahkan pandangan antara korban dan pelaku, serta memperlihatkan betapa sulitnya mencapai konsensus nasional terkait sejarah traumatis. Peristiwa ini akan terus menjadi bahan diskusi dalam konteks hukum dan kriminalitas internasional serta studi pascakonflik.
Analisis Redaksi: Peristiwa pemakaman Ratko Mladic, yang diwarnai dengan unjuk dukungan massal, bukan sekadar sebuah ritual terakhir, melainkan sebuah pernyataan politik yang kuat. Ini merefleksikan persistensi narasi nasionalis yang menolak mengakui vonis kejahatan perang internasional, sekaligus menyoroti kegagalan atau kesulitan masyarakat Balkan untuk sepenuhnya merekonsiliasi diri dengan masa lalu yang penuh luka. Glorifikasi semacam ini berisiko memperdalam jurang perpecahan dan menghambat upaya panjang menuju keadilan transisional dan perdamaian di kawasan. Komunitas internasional perlu terus menyuarakan pentingnya akuntabilitas dan penghormatan terhadap korban kejahatan perang.