Cisjordania—Ketegangan memuncak di wilayah pendudukan Cisjordania setelah sekelompok pemukim Israel membakar sebuah masjid dan disusul operasi militer besar-besaran oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang menahan sedikitnya 80 warga Palestina. Insiden provokatif ini, yang terjadi baru-baru ini pada tahun 2026, memperburuk situasi keamanan yang telah rapuh dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih lanjut.
Kantor berita Palestina, Wafa, melaporkan bahwa kampanye penangkapan massal tersebut menyasar puluhan individu dari berbagai kota dan desa di seluruh Cisjordania. IDF belum memberikan komentar resmi mengenai skala operasi ini atau alasan spesifik di balik penahanan tersebut, namun insiden ini secara jelas merupakan respons terhadap pembakaran masjid.
Pembakaran masjid, yang diyakini dilakukan oleh pemukim ekstremis Israel, terjadi di sebuah desa kecil di selatan Nablus. Saksi mata menyatakan api melalap sebagian besar bangunan dan merusak interior masjid, termasuk kitab suci. Aksi vandalisme ini memicu kemarahan luas di kalangan komunitas Palestina dan mengecam kurangnya perlindungan bagi situs-situs suci.
Peristiwa ini bukan insiden terisolasi. Selama beberapa tahun terakhir, Cisjordania menjadi saksi peningkatan kekerasan yang melibatkan pemukim, warga Palestina, dan militer Israel. Data menunjukkan tren peningkatan serangan oleh pemukim terhadap properti dan individu Palestina, seringkali tanpa akuntabilitas yang memadai.
Laporan Wafa secara spesifik menyebutkan bahwa penangkapan dilakukan di beberapa lokasi strategis, termasuk Hebron, Ramallah, dan Jenin. Pasukan Israel melakukan penggeledahan rumah-rumah pada dini hari, menginterogasi warga, dan menyita sejumlah barang pribadi sebelum membawa para tahanan ke lokasi yang tidak diketahui.
Pihak berwenang Palestina mengutuk keras tindakan pembakaran masjid sebagai kejahatan rasial yang disengaja, mendesak komunitas internasional untuk campur tangan. Mereka menyoroti bahwa insiden semacam ini bertujuan memicu spiral kekerasan dan menghancurkan upaya perdamaian apa pun.
Organisasi hak asasi manusia, baik lokal maupun internasional, telah menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka mendesak penyelidikan transparan terhadap pembakaran masjid dan menuntut agar militer Israel mematuhi hukum internasional selama operasi penangkapan. Mereka juga menuntut akses bagi pengacara untuk menemui para tahanan.
Pembakaran tempat ibadah, terutama masjid, memiliki sensitivitas tinggi dalam konflik Israel-Palestina. Tindakan ini sering dianggap sebagai provokasi ekstrem yang menargetkan identitas agama dan budaya, yang dapat memicu respons emosional dan kekerasan yang lebih besar.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai insiden ini. Namun, kabinet keamanan diyakini telah melakukan pertemuan darurat untuk membahas situasi yang memburuk dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengendalikan ketegangan.
Beberapa pengamat politik regional menilai insiden ini sebagai upaya segelintir ekstremis untuk menggagalkan setiap potensi proses politik atau mengurangi harapan akan de-eskalasi. Mereka berpendapat bahwa tindakan semacam ini justru merugikan kepentingan keamanan jangka panjang kedua belah pihak.
Situasi di Cisjordania juga memengaruhi sentimen global. Peristiwa serupa di masa lalu sering memicu demonstrasi dukungan untuk Palestina dan kecaman terhadap Israel dari berbagai negara, bahkan memengaruhi diskusi tentang fanatisme anti-Israel di luar negeri.
Sementara itu, keluarga-keluarga dari 80 warga Palestina yang ditangkap mulai berkumpul di markas besar kelompok hak asasi manusia, mencari informasi tentang keberadaan dan kondisi orang-orang yang ditahan. Kecemasan memayungi komunitas yang terus-menerus hidup di bawah bayang-bayang konflik.
Operasi penangkapan massal ini, menurut Wafa, merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan peningkatan drastis dalam tindakan keras militer. Ini terjadi di tengah seruan internasional yang terus-menerus untuk menahan diri dan mencari solusi damai.
Konflik berkepanjangan di Cisjordania, yang diperburuk oleh pembangunan permukiman dan insiden kekerasan seperti pembakaran masjid ini, menjadi tantangan besar bagi stabilitas regional. Komunitas internasional terus memantau dengan cermat perkembangan situasi yang penuh gejolak ini pada tahun 2026.