Meskipun gencatan senjata di Jalur Gaza rapuh, kelompok Hamas tetap mampu beroperasi, menghambat setiap upaya menciptakan stabilitas. Hans-Jakob Schindler, seorang pakar Timur Tengah terkemuka, pada tahun 2026, menegaskan bahwa kelangsungan hidup Hamas secara signifikan bergantung pada aliran dana dari Eropa. Analisis ini menyoroti bagaimana struktur Hamas yang masih utuh serta dukungan Iran terus memicu konflik yang tak berkesudahan di kawasan tersebut.
Schindler, dalam sebuah wawancara mendalam, mengungkapkan bahwa selama negara-negara Eropa tidak menghentikan sokongan finansial, Hamas akan selalu memiliki peluang untuk bertahan dan memperkuat posisinya. Dana ini, meskipun seringkali dialokasikan untuk tujuan kemanusiaan atau pembangunan, diduga kuat dapat disalahgunakan atau secara tidak langsung membebaskan sumber daya Hamas untuk aktivitas militer.
Jalur Gaza saat ini hidup di bawah bayang-bayang gencatan senjata yang rentan, diwarnai ketidakpastian politik dan kemanusiaan. Kondisi ini memungkinkan kelompok bersenjata untuk terus beradaptasi dan membangun kembali kekuatan mereka di tengah kehancuran infrastruktur.
Lebih lanjut, Schindler juga menyoroti peran strategis Iran. Pengaruh Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Gaza merupakan faktor krusial yang menggerakkan eskalasi konflik. Dukungan logistik, pelatihan, hingga pasokan persenjataan dari Teheran diklaim menjadi penopang kekuatan Hamas, terlepas dari kerugian besar yang mereka alami.
Gencatan senjata yang ada, meskipun memberikan jeda sesaat dari kekerasan, tidak mampu menciptakan tatanan yang stabil. Sebaliknya, hal itu justru memberi ruang bagi Hamas untuk mengkonsolidasi diri, sebuah dinamika yang diyakini pakar menjadi lingkaran setan kekerasan di wilayah tersebut.
“Selama orang Eropa tidak memutus dana, Hamas memiliki peluang untuk bertahan hidup,” demikian kutipan Schindler yang diterjemahkan secara harfiah. Pernyataan ini menjadi peringatan serius bagi komunitas internasional, terutama Uni Eropa, untuk mengevaluasi kembali mekanisme penyaluran bantuan dan memastikan tidak ada celah bagi penyalahgunaan dana.
Uni Eropa menghadapi dilema kompleks. Di satu sisi, ada komitmen untuk bantuan kemanusiaan. Di sisi lain, kekhawatiran bahwa dana tersebut bisa secara tidak langsung memperpanjang konflik menimbulkan tekanan signifikan. Kritik terhadap “raksasa birokrasi” Uni Eropa oleh tokoh seperti Meloni (artikel terkait: Meloni Kecam 'Raksasa Birokrasi' Uni Eropa: Tuntut Reformasi Cepat!) juga dapat diasosiasikan dengan isu efektivitas pengawasan dana ini.
Meskipun Israel kerap melaporkan keberhasilan menewaskan komandan militer Hamas (misalnya: Israel Pastikan Kematian Komandan Militer Hamas, Operasi Elit Berhasil), organisasi ini menunjukkan resiliensi luar biasa. Mereka terus mengisi kembali kepemimpinan dan membangun ulang infrastruktur militer, menandakan bahwa upaya untuk menumpasnya memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.
Kondisi ini berdampak luas pada stabilitas regional. Timur Tengah terus memanas dengan ancaman balas dendam dan gempuran yang saling berbalasan, menciptakan siklus konflik yang sulit dipecahkan.
Schindler menekankan pentingnya respons kolektif dan tegas dari komunitas internasional. Tanpa pemutusan jalur pendanaan yang efektif dan penekanan terhadap aktor-aktor eksternal seperti Iran, upaya perdamaian di Jalur Gaza akan selalu menemui jalan buntu.
Prospek perdamaian jangka panjang di wilayah ini terancam oleh dinamika pendanaan dan dukungan eksternal. Perdebatan mengenai bagaimana mengisolasi Hamas tanpa memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza tetap menjadi tantangan besar bagi diplomasi global pada tahun 2026.
Oleh karena itu, kata Schindler, kunci untuk mengakhiri siklus kekerasan di Gaza terletak pada kemampuan komunitas internasional untuk secara efektif memotong sumber daya yang menopang keberadaan dan operasional Hamas, termasuk dari kanal pendanaan yang tidak disadari.