BEKASI — Sebuah insiden ledakan dan kebakaran dahsyat mengguncang Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) yang berlokasi di Jalan Raya Narogong, Cimuning, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Ahad dini hari. Kejadian tragis ini mengakibatkan sedikitnya 15 orang mengalami luka bakar parah, dengan beberapa korban mencapai tingkat luka hingga 90% dari total permukaan tubuh. Korban mayoritas adalah pekerja SPBE serta beberapa warga yang berada di sekitar lokasi.
Data awal dari pihak berwenang menyebutkan bahwa seluruh korban telah dievakuasi dan segera dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat, termasuk Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi dan beberapa fasilitas kesehatan yang memiliki unit perawatan luka bakar intensif. Kondisi sebagian besar korban dilaporkan kritis dan memerlukan penanganan medis yang serius.
Insiden nahas ini diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Saksi mata di lokasi kejadian menuturkan, ledakan keras terdengar disusul kobaran api yang dengan cepat melahap area SPBE. Getaran ledakan bahkan dirasakan hingga radius beberapa kilometer, menimbulkan kepanikan di kalangan warga Cimuning dan sekitarnya.
Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Kota, Komisaris Besar Polisi Adi Wibowo, saat meninjau lokasi kejadian, menyatakan pihaknya telah menurunkan tim gabungan dari Inafis dan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri untuk menginvestigasi penyebab pasti kebakaran. Dugaan sementara mengarah pada kebocoran gas yang memicu percikan api.
"Penyelidikan mendalam sedang kami lakukan. Tim ahli forensik telah berada di lapangan untuk mengumpulkan bukti-bukti. Prioritas utama kami adalah memastikan penanganan korban berjalan optimal dan mengungkap penyebab insiden ini secara tuntas," ujar Kombes Adi, Ahad (18/1).
Api yang membara hebat berhasil dipadamkan setelah lebih dari tiga jam oleh puluhan unit mobil pemadam kebakaran dari Kota dan Kabupaten Bekasi, dibantu unit dari DKI Jakarta. Proses pemadaman berlangsung dramatis mengingat material elpiji yang sangat mudah terbakar dan potensi ledakan susulan.
Dampak kerusakan akibat ledakan dan kebakaran ini sangat signifikan. Bangunan utama SPBE hancur total, menyisakan puing-puing hangus. Selain itu, beberapa rumah warga yang berdekatan dengan SPBE mengalami kerusakan parah pada bagian atap dan kaca pecah akibat gelombang kejut ledakan.
Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah membuka posko darurat untuk mengidentifikasi korban, membantu keluarga, serta menyediakan tempat penampungan sementara bagi warga yang rumahnya terdampak. Evakuasi sementara juga dilakukan untuk menjamin keamanan warga dari potensi bahaya yang masih ada.
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) keselamatan yang ketat di fasilitas pengisian bahan bakar. Regulator dan pengelola industri gas diharapkan semakin serius dalam melakukan audit dan pemeliharaan rutin untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Manajemen SPBE yang bersangkutan belum memberikan pernyataan resmi mengenai insiden ini. Namun, mereka diharapkan dapat bekerja sama penuh dengan pihak berwenang dalam proses investigasi dan memberikan pertanggungjawaban penuh atas tragedi yang menimpa karyawan serta warga sekitar. Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan risiko inheren dalam pengelolaan energi yang berpotensi membahayakan jika aspek keselamatan terabaikan.