Gempa M 7,6 Guncang Sulut: Peringatan Tsunami 1000 Km Gemparkan Kawasan Pasifik

Gabriella Gabriella 03 Apr 2026 04:45 WIB
Gempa M 7,6 Guncang Sulut: Peringatan Tsunami 1000 Km Gemparkan Kawasan Pasifik
Warga pesisir di Manado bergegas mengevakuasi diri ke tempat tinggi setelah BMKG mengeluarkan peringatan tsunami pascagempa M 7,6 yang mengguncang perairan Sulawesi Utara. (Foto: Ilustrasi/Net)

MANADO — Sebuah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang perairan Sulawesi Utara pada Selasa dini hari, pukul 02.15 WIB, memicu peringatan tsunami yang berpotensi mencapai radius 1.000 kilometer dari pusat gempa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan peringatan dini tsunami, mendesak warga di wilayah pesisir untuk segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi guna menghindari potensi gelombang dahsyat.

Episentrum gempa tercatat berada pada kedalaman 30 kilometer di bawah permukaan laut, sekitar 141 kilometer tenggara Kepulauan Sangihe. Guncangan kuat terasa di Manado, Bitung, Ternate, bahkan hingga Morotai, membangunkan ribuan penduduk dari tidurnya dan mendorong mereka mencari perlindungan di area terbuka.

Peringatan tsunami yang dikeluarkan BMKG mencakup wilayah pesisir Sulawesi Utara, seperti Minahasa Utara, Bitung, Sangihe, Talaud, serta sebagian Maluku Utara, termasuk Halmahera Barat dan Morotai. BMKG menegaskan potensi gelombang tsunami bervariasi, dari ketinggian kurang dari 0,5 meter hingga 2 meter di beberapa titik.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil pemodelan, gelombang tsunami diperkirakan akan tiba di pesisir terdekat sekitar pukul 02.40 WIB. “Kami telah menginstruksikan seluruh BPBD dan pemerintah daerah di wilayah terdampak untuk mengaktifkan sistem peringatan dini dan memandu evakuasi warga secara teratur,” ujar Dr. Daryono dalam konferensi pers virtualnya.

Masyarakat di sejumlah kota, seperti Manado, melaporkan kepanikan massal saat gempa terjadi. “Saya sedang tidur pulas, tiba-tiba ranjang bergoyang hebat. Lampu mati, dan kami langsung lari keluar rumah. Rasanya seperti dunia mau runtuh,” cerita Ibu Sonya, seorang warga Paal Dua, Manado, yang kini berada di lokasi evakuasi sementara.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengaktifkan Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) untuk memantau situasi secara real-time. Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Bapak Fajar Sidik, menyatakan tim cepat tanggap telah disiagakan di seluruh wilayah berisiko tinggi. “Prioritas utama saat ini adalah keselamatan jiwa. Kami juga berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk memperlancar proses evakuasi dan menjaga ketertiban,” jelasnya.

Secara geologis, gempa ini disebabkan oleh aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku yang kompleks, tempat tiga lempeng besar (Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik) saling bertemu. Tekanan yang terakumulasi selama bertahun-tahun kemudian dilepaskan, menyebabkan patahan yang menghasilkan guncangan kuat dan berpotensi memicu gelombang raksasa.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (PTWC) yang berbasis di Honolulu, Amerika Serikat, juga mengeluarkan buletin peringatan untuk wilayah Pasifik yang lebih luas, termasuk Filipina dan Palau, menggarisbawahi potensi dampak lintas batas. Negara-negara tetangga di kawasan ini telah diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan langkah mitigasi.

Meskipun peringatan telah dikeluarkan, tantangan logistik, terutama evakuasi di tengah kegelapan dini hari, menjadi hambatan serius. Beberapa daerah terpencil menghadapi kesulitan akses dan komunikasi. Pemerintah daerah dan relawan bahu-membahu memastikan informasi peringatan sampai ke seluruh lapisan masyarakat dengan maksimal.

Presiden Republik Indonesia, Bapak Ananta Wijaya, yang sedang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Tokyo, telah menginstruksikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk segera meninjau langsung lokasi dan memastikan seluruh penanganan berjalan optimal. “Keselamatan rakyat adalah prioritas utama. Sumber daya negara akan dimobilisasi penuh,” tegas Presiden dalam pernyataan resminya yang dirilis pagi ini.

Masyarakat diminta untuk tidak terpancing informasi hoaks dan hanya merujuk pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah. Setelah potensi tsunami berlalu, warga juga diimbau untuk tetap waspada terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi sewaktu-waktu.

Data terakhir yang dihimpun tim Cognito Daily menunjukkan belum ada laporan korban jiwa, namun kerusakan struktural pada beberapa bangunan dan fasilitas umum mulai teridentifikasi di area terdampak. Tim assessment cepat sedang dalam perjalanan untuk mendata kerugian secara komprehensif dan memberikan bantuan awal.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Gabriella

Tentang Penulis

Gabriella

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!