BERLIN – Sejarawan terkemuka, Michael Wolffsohn, melontarkan kritik keras terhadap postur keamanan Jerman, menyebut negara itu sebagai ‘negara berkembang’ dalam aspek kebijakan pertahanan. Pernyataan mengejutkan ini diungkapkannya belum lama ini, menuntut pemerintah Jerman untuk segera mengalihkan fokus dari retorika saling menyalahkan menuju penanganan ancaman konkret yang semakin nyata pada tahun 2026.
Wolffsohn tidak segan menegaskan bahwa Jerman selama ini hidup dalam ilusi keamanan yang rapuh. “Kita hidup di tahun-tahun terakhir ini di dunia mimpi yang sudah tidak ada lagi,” ujarnya, menggarisbawahi kegagalan kolektif dalam menghadapi realitas geopolitik yang berubah drastis dan lanskap ancaman yang terus berkembang.
Kritik tajam Wolffsohn muncul di tengah meningkatnya ketegangan global, konflik regional yang memengaruhi stabilitas Eropa, dan kemunculan berbagai ancaman hibrida. Situasi ini, termasuk eskalasi di Eropa Timur dan ancaman siber yang kian canggih, menuntut respons kebijakan pertahanan yang jauh lebih proaktif dan adaptif dari negara-negara besar seperti Jerman.
Menurut Wolffsohn, alih-alih berfokus pada pembangunan kapasitas pertahanan yang substansial, pemerintah Jerman cenderung terjebak dalam perdebatan internal dan proyeksi idealis yang tidak lagi relevan. Ia menekankan bahwa keamanan nasional bukan sekadar urusan retorika, melainkan implementasi strategi nyata, alokasi anggaran yang memadai, dan modernisasi militer yang berkelanjutan.
Sebagai seorang sejarawan dengan reputasi internasional, Wolffsohn sering kali menarik paralel dari peristiwa masa lalu untuk menganalisis kondisi kontemporer. Ia berpendapat bahwa Jerman, pasca-Perang Dingin, terlalu nyaman dengan dividen perdamaian, mengabaikan pentingnya investasi pada sektor pertahanan yang kini justru menjadi kebutuhan mendesak bagi keberlangsungan stabilitas.
Posisi Jerman sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Eropa seharusnya diimbangi dengan peran yang sepadan dalam menjaga keamanan regional dan global. Namun, menurut Wolffsohn, kelemahan dalam kebijakan pertahanan justru melemahkan kredibilitas Jerman di mata sekutu-sekutu NATO dan Uni Eropa, serta mengurangi daya tawar diplomatiknya.
Ancaman nyata terhadap infrastruktur kritis, seperti yang terlihat pada insiden kelumpuhan bandara Jerman akibat ancaman drone pada tahun 2026 ini atau tahun-tahun sebelumnya, menjadi bukti konkret bahwa postur keamanan saat ini belum optimal. Kejadian tersebut mengindikasikan adanya celah fundamental yang perlu segera ditangani secara serius.
Wolffsohn menyerukan perubahan mendasar dalam pola pikir para pengambil kebijakan. Ia menghendaki adanya pengakuan jujur terhadap realitas ancaman dan keberanian untuk mengambil keputusan sulit demi kepentingan keamanan jangka panjang Jerman dan stabilitas regional.
Pernyataan keras ini diperkirakan akan memicu diskusi publik yang intens mengenai prioritas anggaran pertahanan, strategi keamanan nasional, dan peran Jerman di panggung internasional. Masyarakat Jerman pun diharapkan dapat lebih memahami urgensi dari pembenahan menyeluruh di sektor keamanan.
Melihat bagaimana negara-negara Eropa lainnya secara proaktif meningkatkan anggaran dan kapabilitas pertahanan mereka pasca-konflik di Ukraina, kritik Wolffsohn semakin relevan. Ia mengamati bahwa Jerman masih tertinggal dalam kecepatan adaptasi terhadap lanskap keamanan yang dinamis dan berpotensi membahayakan posisinya.
Investasi yang memadai dalam pertahanan juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Wolffsohn mungkin berpendapat bahwa pengabaian sektor ini dapat berakibat pada disrupsi ekonomi yang lebih besar jika terjadi insiden keamanan substansial, mempengaruhi perdagangan, investasi, dan kesejahteraan umum.
Terkait dinamika politik internal, kritiknya juga bisa dilihat dalam konteks perdebatan mengenai stabilitas pemerintahan dan kebijakan luar negeri Jerman. Isu-isu sensitif seperti larangan koalisi dengan partai ekstrem terkadang mempengaruhi konsensus nasional dalam isu-isu krusial.
Wolffsohn mengusulkan pendekatan yang lebih pragmatis dan berbasis fakta, menekankan perlunya evaluasi ancaman yang objektif dan pengembangan kapabilitas pertahanan yang spesifik, bukan sekadar penyesuaian nominal anggaran. Ini melibatkan reorganisasi dan restrukturisasi yang mendalam.
Inti pesan Wolffsohn adalah bahwa Jerman harus bangun dari \"dunia mimpi\" dan menghadapi kenyataan bahwa keamanan adalah tanggung jawab aktif yang membutuhkan investasi berkelanjutan, strategi yang jelas, dan kemauan politik yang kuat.
Urgensi pembenahan ini semakin mendesak mengingat kompleksitas ancaman yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup dimensi hibrida, siber, biologis, dan ekonomi, yang semuanya saling terkait.
Analisis Redaksi: Pernyataan sejarawan Michael Wolffsohn ini bukan sekadar kritik biasa, melainkan sebuah peringatan serius yang menyoroti kelemahan struktural dalam kebijakan keamanan Jerman. Jika tidak segera direspons dengan tindakan konkret dan strategi yang komprehensif, pandangan ini berpotensi merusak citra Jerman sebagai kekuatan stabil di Eropa dan menimbulkan keraguan di antara sekutu-sekutunya. Pergeseran paradigma dari idealisme pasif menuju pragmatisme pertahanan yang kuat tampaknya menjadi keniscayaan bagi Jerman di tahun 2026 dan seterusnya, demi menjaga kedaulatan, kepentingan nasional, serta perannya yang krusial dalam tatanan global.