PARIS – Dua puluh ekonom dan spesialis pendidikan terkemuka di Prancis, termasuk nama-nama besar seperti Philippe Aghion dan Stanislas Dehaene, menyerukan perubahan fundamental dalam pendekatan reformasi sistem edukasi. Mereka mendesak transisi dari serangkaian perubahan sporadis menuju strategi kemajuan yang berakar pada durasi jangka panjang. Usulan komprehensif ini, yang dipublikasikan dalam sebuah kolom opini di Le Monde, menargetkan peningkatan kinerja pendidikan nasional menjelang Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) 2025.
Inisiatif para pakar ini muncul di tengah kekhawatiran global terhadap skor PISA yang terus menunjukkan tren penurunan. Berbagai analisis menunjukkan bahwa krisis pendidikan global, sebagaimana tercermin dalam skor PISA 2025 yang anjlok terparah sejak milenium baru, membutuhkan respons yang lebih terstruktur dan berkesinambungan.
Rencana yang disodorkan para intelektual tersebut mencakup lima langkah konkret. Mereka menekankan pentingnya intervensi yang bukan sekadar respons instan, melainkan investasi strategis yang membuahkan hasil jangka panjang.
Berikut lima pilar utama usulan strategis tersebut:
- Peningkatan signifikan kualitas dan status profesi guru, termasuk pelatihan dan remunerasi yang lebih baik.
- Pengembangan kurikulum yang lebih relevan dan adaptif terhadap kebutuhan masa depan, dengan fokus pada keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
- Investasi pada infrastruktur sekolah yang modern dan teknologi pendidikan yang inovatif.
- Penguatan dukungan individual bagi siswa yang membutuhkan, guna mengurangi kesenjangan prestasi.
- Pembentukan kerangka evaluasi yang transparan dan berkelanjutan untuk mengukur efektivitas setiap kebijakan.
Estimasi biaya pelaksanaan strategi ini mencapai sekitar 4 miliar euro. Angka tersebut, menurut para ekonom, merupakan investasi krusial demi masa depan pendidikan Prancis. Mereka berargumen bahwa penundaan dalam mengatasi akar masalah hanya akan menimbulkan biaya sosial dan ekonomi yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Dalam kolomnya, para pakar menegaskan, Kita harus beralih dari serangkaian reformasi sistem pendidikan menjadi strategi kemajuan yang berakar pada durasi jangka panjang. Pernyataan ini menjadi inti dari seluruh argumen mereka, menggarisbawahi urgensi pendekatan holistik.
Mereka mengamati bahwa reformasi yang terputus-putus seringkali gagal menciptakan dampak yang berkelanjutan. Kebijakan yang berubah seiring pergantian pemerintahan atau prioritas jangka pendek justru menghambat akumulasi kemajuan yang stabil dalam sistem pendidikan.
Philippe Aghion, seorang ekonom terkemuka, dikenal dengan risetnya tentang pertumbuhan inovatif. Keterlibatannya menunjukkan bahwa dimensi ekonomi dan inovasi menjadi pertimbangan utama dalam usulan ini. Stanislas Dehaene, pakar ilmu kognitif, tentu membawa perspektif tentang bagaimana otak belajar, yang krusial untuk perancangan kurikulum dan metode pengajaran.
Krisis pendidikan memang bukan hanya fenomena Prancis. Laporan PISA 2025 yang menunjukkan anjloknya skor siswa global telah memicu keprihatinan serius di berbagai negara, dan memunculkan pertanyaan tentang peran pandemi sebagai pemicu krisis edukasi.
Para pakar ini mendesak pemerintah untuk mengadopsi kerangka kerja yang lebih stabil dan bipartisan dalam kebijakan pendidikan. Stabilitas semacam ini diharapkan dapat memastikan bahwa investasi dan inisiatif tidak tergerus oleh perubahan politik.
Implementasi strategi ini dianggap vital untuk membekali generasi mendatang dengan keterampilan yang diperlukan agar dapat bersaing dalam ekonomi global yang kian kompleks. Kualitas pendidikan menjadi penentu daya saing bangsa.
Agar strategi ini berhasil, diperlukan konsensus luas dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk serikat guru, orang tua, dan masyarakat sipil. Tanpa dukungan kolektif, reformasi skala besar akan sulit terwujud.
Proposal ini bukan hanya sekadar daftar rekomendasi, melainkan sebuah cetak biru untuk transformasi fundamental yang diharapkan dapat mengembalikan sistem pendidikan Prancis ke jalur kemajuan yang kokoh dan berkelanjutan.
Analisis Redaksi: Usulan para ekonom dan spesialis pendidikan ini menyoroti kelemahan struktural dalam pendekatan reformasi pendidikan global yang cenderung bersifat reaktif. Fokus pada strategi jangka panjang, investasi berkesinambungan, dan pendekatan holistik adalah keniscayaan di tengah tantangan PISA 2025. Keberhasilan implementasinya akan bergantung pada kemauan politik dan kemampuan membangun konsensus nasional, melampaui kepentingan partisan. Ini juga bisa menjadi model bagi negara lain yang bergulat dengan masalah serupa.