PISA 2025: Inggris Bersinar, Wales-Skotlandia Terpuruk, Sorotan Kesenjangan Edukasi

Demian Sahputra Demian Sahputra 09 Sep 2026 17:00 WIB
PISA 2025: Inggris Bersinar, Wales-Skotlandia Terpuruk, Sorotan Kesenjangan Edukasi
Ilustrasi: PISA 2025: Inggris Bersinar, Wales-Skotlandia Terpuruk, Sorotan Kesenjangan Edukasi

LONDON – Hasil Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) 2025 mengungkap paradoks prestasi pendidikan Inggris Raya. Meskipun skor agregat menunjukkan kinerja baik, analisis mendalam menguak kesenjangan signifikan antarnegara konstituen, dengan Inggris menjadi penopang utama pencapaian keseluruhan.

PISA, sebuah inisiatif Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), mengevaluasi kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Laporan ini merupakan barometer penting bagi sistem pendidikan global, memberikan perbandingan kualitas antarnegara.

Data PISA 2025 secara eksplisit menyoroti superioritas siswa di Inggris. Performa mereka melampaui rata-rata nasional Inggris Raya, secara efektif mengangkat profil keseluruhan negara di panggung internasional dan menyumbang kontribusi dominan terhadap posisi agregat yang baik.

Situasi kontras terjadi di Wales, Irlandia Utara, dan Skotlandia. Wilayah-wilayah ini menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan Inggris, menciptakan disparitas mencolok dalam ekosistem pendidikan Britania Raya. Ketimpangan ini menyiratkan adanya tantangan serius dalam sistem pendidikan di negara-negara tersebut.

Kesenjangan ini bukan fenomena baru. Perbedaan kurikulum, struktur pemerintahan pendidikan yang terdesentralisasi, serta prioritas anggaran antarnegara konstituen telah lama menjadi diskursus. Misalnya, Inggris memiliki kurikulum nasional yang lebih terpusat dan seringkali lebih berorientasi pada hasil tes standar, sementara Skotlandia dan Wales memiliki pendekatan yang lebih otonom dengan penekanan berbeda.

Implikasi dari perbedaan ini memunculkan pertanyaan kritis tentang kesetaraan akses dan kualitas pendidikan bagi seluruh warga Inggris Raya. Keberhasilan Inggris dapat menutupi kebutuhan mendesak untuk reformasi di wilayah lain yang tertinggal, berpotensi memperlebar jurang kesempatan bagi generasi muda.

Temuan PISA 2025 di Inggris Raya datang di tengah laporan global yang mengkhawatirkan. Banyak negara mengalami penurunan skor siswa secara drastis, memicu kekhawatiran tentang krisis pendidikan global pascapandemi COVID-19. Inggris Raya, meskipun secara agregat baik, tidak luput dari tantangan ini di beberapa wilayahnya, yang mengindikasikan bahwa dampak pandemi masih terasa.

Profesor Sarah Jenkins, seorang pakar pendidikan dari Universitas Manchester, menyatakan, 'Performa Inggris yang kuat tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kemerosotan di Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara. Penting untuk melakukan tinjauan komprehensif atas kebijakan pendidikan di seluruh wilayah untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama.'

Pemerintah Inggris Raya, melalui Kementerian Pendidikan, diharapkan akan menganalisis lebih dalam faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perbedaan ini. Fokus pada peningkatan kualitas pengajaran, intervensi dini, dan dukungan bagi siswa yang membutuhkan di wilayah yang tertinggal menjadi krusial untuk mengatasi kesenjangan yang ada.

Langkah-langkah strategis jangka panjang perlu dirumuskan, mungkin dengan mengadopsi praktik terbaik dari Inggris dan mengadaptasinya sesuai konteks lokal di wilayah lain. Kolaborasi lintas-negara konstituen dapat menjadi kunci untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih merata dan berkualitas di seluruh Inggris Raya.

PISA 2025 memperlihatkan gambaran kompleks tentang lanskap pendidikan di Inggris Raya. Prestasi gemilang Inggris menjadi mercusuar, tetapi bayangan kesenjangan di wilayah lain menuntut perhatian serius dari para pemangku kepentingan untuk mencegah dampak jangka panjang yang merugikan.

Analisis Redaksi: Data PISA 2025 adalah pengingat bahwa 'rata-rata' nasional seringkali menyembunyikan disparitas yang mendalam. Ketergantungan pada satu wilayah untuk mengangkat keseluruhan skor hanya akan menunda solusi bagi masalah struktural di wilayah lain. Inggris Raya perlu pendekatan terpadu yang menghormati otonomi lokal, sekaligus menetapkan standar minimum kualitas yang universal untuk mencegah kesenjangan pendidikan kronis semakin melebar dan memastikan masa depan pendidikan yang lebih inklusif.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.lemonde.fr
Demian Sahputra

Tentang Penulis

Demian Sahputra

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad