PISA 2025: Kilau Palsu Prestasi Sains Tiongkok Terkuak

Dorry Archiles Dorry Archiles 09 Sep 2026 17:00 WIB
PISA 2025: Kilau Palsu Prestasi Sains Tiongkok Terkuak
Ilustrasi: PISA 2025: Kilau Palsu Prestasi Sains Tiongkok Terkuak

BEIJING – Hasil studi Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2025 menempatkan pelajar Tiongkok pada peringkat pertama dunia dalam sains. Namun, prestasi gemilang ini menyisakan tanda tanya besar, lantaran riset tersebut hanya mempertimbangkan capaian siswa dari empat kota dan provinsi paling makmur, mengesampingkan mayoritas wilayah yang jauh kurang berkembang.

Keberhasilan Tiongkok menduduki puncak klasemen sains global patut diakui. Indikator ini kerap dijadikan rujukan kualitas pendidikan suatu negara. Namun, pendekatan selektif dalam pengumpulan data telah menimbulkan keraguan serius mengenai representasi sesungguhnya dari sistem pendidikan Tiongkok secara keseluruhan.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) sebagai penyelenggara PISA, dalam laporannya menyebutkan bahwa data yang digunakan berasal dari kawasan urban dengan ekonomi maju. Hal ini secara implisit mengakui adanya bias dalam sampel yang diambil, yang secara signifikan dapat memengaruhi hasil akhir penilaian.

Terbatasnya cakupan survei PISA 2025 ini mengabaikan jutaan siswa di daerah pedesaan dan provinsi-provinsi pedalaman Tiongkok yang memiliki akses dan kualitas pendidikan yang sangat bervariasi. Wilayah-wilayah ini menghadapi tantangan infrastruktur, kualitas guru, dan sumber daya yang jauh berbeda dibandingkan pusat-pusat metropolitan.

Fenomena ini menciptakan citra keberhasilan yang tidak utuh, bahkan cenderung menyesatkan. Peringkat pertama yang diraih Tiongkok, jika dilihat dari kacamata inklusif, dapat disebut sebagai sebuah trompe-loeil, atau ilusi optik yang menipu mata, karena tidak mencerminkan realitas pendidikan nasional yang kompleks dan beragam.

Kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Tiongkok adalah isu yang telah lama menjadi perhatian. Anak-anak dari keluarga miskin seringkali tersingkir dari jenjang pendidikan tinggi akibat keterbatasan ini. Laporan PISA 2025 ini secara tidak langsung memperkuat narasi mengenai disparitas yang masih meluas.

Banyak pakar pendidikan global mulai menyuarakan keprihatinan. Mereka berpendapat bahwa evaluasi internasional seperti PISA harus mencerminkan kondisi riil suatu negara agar hasilnya benar-benar kredibel dan dapat digunakan sebagai dasar kebijakan yang tepat sasaran.

Metodologi pengambilan sampel yang lebih representatif akan membantu dunia memahami tantangan dan keberhasilan pendidikan Tiongkok secara lebih akurat. Ini juga penting bagi Tiongkok sendiri untuk mengidentifikasi area yang memerlukan intervensi kebijakan lebih lanjut demi pemerataan kualitas pendidikan.

Selain itu, hasil PISA 2025 ini kontras dengan tren global yang justru menunjukkan penurunan skor di banyak negara, seperti yang disoroti dalam artikel Krisis Pendidikan Global: Skor PISA 2025 Anjlok Terparah Sejak Milenium Baru. Keberhasilan Tiongkok, meski terbatas, tetap menjadi sorotan di tengah kemerosotan umum.

Transparansi dan inklusivitas dalam studi PISA berikutnya menjadi krusial. Hanya dengan cakupan data yang menyeluruh, gambaran sejati tentang kemajuan atau kemunduran pendidikan suatu bangsa dapat disajikan tanpa bias, memberikan landasan yang kokoh bagi perbaikan berkelanjutan.

Analisis Redaksi: Prestasi Tiongkok di PISA 2025 adalah cerminan paradoks pembangunan. Meskipun menunjukkan kemampuan luar biasa di pusat-pusat ekonomi, metode sampling yang terbatas secara inheren gagal menangkap gambaran utuh. Situasi ini menggarisbawahi tantangan mendasar dalam menilai sistem pendidikan negara besar dan beragam, serta pentingnya menelaah data global dengan kritis. Tanpa data yang representatif, upaya perbaikan pendidikan akan kehilangan arah, dan kesenjangan justru berpotensi melebar.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.lemonde.fr
Dorry Archiles

Tentang Penulis

Dorry Archiles

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad