ROMA – Sebuah putusan pengadilan Italia pada tahun 2026 menggoncang relasi diplomatik dan harapan keadilan, setelah tiga agen intelijen Mesir divonis hukuman sepuluh tahun penjara atas keterlibatan mereka dalam penculikan Giulio Regeni. Mahkamah Agung Roma memutuskan bahwa ketiga agen tersebut bersalah atas penculikan warga negara Italia, namun secara mengejutkan membatalkan dakwaan terkait pembunuhan brutal yang menimpa peneliti muda tersebut, bahkan menguatkan pembebasan satu agen lainnya.
Kasus Giulio Regeni, seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Cambridge, telah menjadi duri dalam hubungan Italia-Mesir sejak ia menghilang di Kairo pada awal tahun 2016. Regeni, yang saat itu berusia 28 tahun, sedang melakukan penelitian tentang serikat pekerja independen di Mesir—sebuah topik sensitif bagi pemerintah otoriter setempat.
Tubuhnya ditemukan di parit pinggir jalan di pinggiran Kairo pada 3 Februari 2016, sembilan hari setelah menghilang. Hasil autopsi menunjukkan Regeni mengalami penyiksaan yang mengerikan, termasuk patah tulang, luka bakar rokok, dan luka tusuk, mengindikasikan kematian yang sangat brutal dan lambat.
Insiden ini memicu gelombang kemarahan publik dan desakan kuat dari Italia untuk transparansi dan keadilan. Pemerintah Italia berulang kali menuntut kerja sama penuh dari Mesir dalam penyelidikan, namun upaya tersebut kerap terhambat oleh minimnya respons dan dugaan penghalang-halangan informasi.
Jaksa penuntut Italia, setelah bertahun-tahun melakukan investigasi mandiri dan mengumpulkan bukti, menuduh empat agen dari Badan Keamanan Nasional Mesir terlibat. Dakwaan ini meliputi penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan. Persidangan ini berlangsung tanpa kehadiran para terdakwa, yang oleh Mesir diklaim tidak dapat diidentifikasi atau ditemukan.
Pengadilan di Roma menghadapi tantangan yurisdiksi yang kompleks, namun memutuskan untuk melanjutkan kasus ini berdasarkan prinsip keadilan universal dan fakta bahwa kejahatan terhadap warga negara Italia terjadi, sekalipun di luar yurisdiksi teritorial Italia. Sebuah keputusan penting yang menegaskan kedaulatan hukum Italia dalam mencari keadilan bagi warganya.
Keputusan pengadilan untuk memvonis tiga agen dengan hukuman sepuluh tahun penjara atas penculikan menegaskan adanya keterlibatan aparat negara Mesir dalam penahanan paksa Regeni. Ini merupakan pengakuan parsial atas tanggung jawab Mesir, meskipun tidak langsung mengaitkannya dengan pembunuhan.
Akan tetapi, bagian dari putusan yang membatalkan dakwaan pembunuhan terhadap tiga agen tersebut, dan mengukuhkan pembebasan agen keempat, memunculkan kekecewaan mendalam di kalangan keluarga Regeni dan aktivis hak asasi manusia. Ibu Regeni, Paola Regeni, secara terbuka menyuarakan frustrasinya atas apa yang ia sebut sebagai 'setengah keadilan.'
Organisasi hak asasi manusia internasional turut menyoroti putusan ini, menekankan bahwa meskipun vonis penculikan merupakan langkah maju, kegagalan mengadili pelaku pembunuhan mengirimkan pesan yang mengkhawatirkan tentang impunitas. Mereka mendesak Italia untuk terus menekan Mesir agar memberikan keadilan penuh.
Kasus Regeni tetap menjadi simbol perjuangan untuk akuntabilitas dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia yang melibatkan agen negara di kancah internasional. Hasil persidangan ini mungkin menutup satu babak, namun tidak mengakhiri pencarian kebenaran seutuhnya. Ini juga menyoroti kompleksitas dalam menegakkan hukum lintas batas negara.
Kematian misterius aktivis perbankan David Rossi, yang kasusnya juga diwarnai investigasi panjang dan pertanyaan tak terjawab, menunjukkan betapa sulitnya mengungkap kebenaran di balik peristiwa-peristiwa yang melibatkan kekuatan tersembunyi. Kedua kasus ini menggarisbawahi perlunya ketekunan tanpa henti dalam pencarian keadilan.
Analisis Redaksi: Vonis ini, meski jauh dari sempurna bagi keluarga Regeni, merupakan tonggak penting dalam upaya penegakan hukum internasional terhadap kejahatan yang diduga dilakukan oleh agen negara asing. Namun, fakta bahwa dakwaan pembunuhan dibatalkan menyisakan pertanyaan besar tentang siapa yang bertanggung jawab atas kematian Giulio dan apakah keadilan sejati akan pernah tercapai. Keputusan ini kemungkinan akan terus menjadi titik friksi dalam hubungan Italia-Mesir, serta memicu perdebatan mengenai batas-batas yurisdiksi dan impunitas negara di era global.