LONDON – Pangeran Charles Spencer, adik mendiang Putri Diana, kembali mengguncang monarki Inggris pada awal tahun 2026 dengan menerbitkan buku-bomba yang merinci serangkaian klaim mengejutkan mengenai mendiang Ratu Elizabeth II. Publikasi kontroversial ini tidak hanya memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat kerajaan, tetapi juga secara langsung menempatkan Raja Charles III di bawah sorotan tajam, memaksa Istana Buckingham menghadapi gelombang tekanan baru.
Buku berjudul Warisan Tersembunyi Windsor tersebut, menurut laporan tabloid terkemuka, secara gamblang menguak sudut pandang pribadi Spencer tentang dinamika internal Istana Buckingham selama puluhan tahun. Fokus utamanya adalah dugaan kurangnya empati dan respons yang lambat dari pihak kerajaan, khususnya mendiang Ratu, terkait peristiwa-peristiwa krusial yang menimpa Putri Diana.
Klaim-klaim dalam buku tersebut menyoroti bagaimana Spencer melihat penanganan berbagai situasi oleh Ratu Elizabeth II yang dianggapnya tidak memadai atau bahkan merugikan bagi citra dan kesejahteraan Diana. Ini termasuk periode sebelum perceraian hingga tragedi fatal yang menimpa Putri Wales pada tahun 1997.
Media-media Inggris, yang telah lama mengikuti saga keluarga kerajaan, melabeli karya Spencer ini sebagai 'bom waktu' yang meledak di tengah upaya Raja Charles III untuk memantapkan posisinya sebagai kepala negara. Kehadiran buku ini mengusik memori kolektif publik terhadap insiden-insiden masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap.
Menurut seorang koresponden kerajaan senior yang dikutip oleh surat kabar The Guardian, Publikasi ini datang pada waktu yang sangat sensitif bagi monarki. Raja Charles berupaya keras untuk memodernisasi institusi, namun beban sejarah dan kritik dari dalam lingkaran terdekat Diana terus menghantuinya.
Reaksi dari Istana Buckingham hingga saat ini masih tertahan. Sumber-sumber internal mengindikasikan bahwa keluarga kerajaan, khususnya Raja Charles, merasa sangat tidak nyaman dengan publikasi ini. Mereka memilih untuk tidak memberikan komentar langsung, sebuah strategi yang sering digunakan dalam menghadapi kontroversi.
Namun, keheningan Istana justru memicu spekulasi lebih lanjut dan memberi ruang bagi tabloid untuk menganalisis setiap detail yang dimuat dalam Warisan Tersembunyi Windsor. Perdebatan publik mengenai peran Ratu Elizabeth II dan penanganan krisis oleh Istana semakin memanas.
Pangeran Charles Spencer sendiri bukanlah sosok asing dalam mengkritisi keluarga kerajaan. Sejak kematian adiknya, ia kerap kali menyuarakan kekecewaannya terhadap perlakuan Istana terhadap Diana. Buku ini dianggap sebagai puncak dari akumulasi pandangannya selama bertahun-tahun.
Gelombang perdebatan yang muncul juga menyentuh aspek relevansi monarki di era modern. Dengan Raja Charles III yang kini memegang takhta, tekanan untuk menunjukkan respons yang lebih transparan dan empati semakin besar. Publik mengharapkan penjelasan, bukan hanya kebisuan.
Situasi ini mengingatkan pada periode-periode sulit sebelumnya bagi monarki, ketika setiap langkah keluarga kerajaan diawasi ketat oleh publik dan media. Keberadaan artikel terkait seperti Pangeran Harry Tampil Perdana di Inggris, Meghan Tetap Absen turut memperkuat narasi tentang disfungsi internal dan kerenggangan dalam tubuh kerajaan.
Para sejarawan dan pengamat kerajaan berpendapat bahwa pengungkapan ini mungkin akan mengubah cara sejarah Ratu Elizabeth II dikenang, setidaknya dari sudut pandang publik. Warisan panjangnya kini harus berhadapan dengan narasi alternatif yang disajikan oleh anggota keluarga terdekat.
Dampak politik dari buku-bomba ini juga tidak bisa diabaikan. Pemerintah Inggris, yang secara konstitusional terkait dengan monarki, mungkin akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit dari parlemen dan publik terkait transparansi dan akuntabilitas institusi kerajaan.
Pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana Raja Charles III akan merespons gejolak ini. Apakah ia akan mempertahankan sikap bungkam, ataukah ia akan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi warisan kontroversial ini dan mencoba merehabilitasi citra monarki di mata dunia.
Analisis Redaksi: Buku Pangeran Charles Spencer lebih dari sekadar memoar; ini adalah kritik tajam yang menghadirkan tantangan signifikan bagi monarki Inggris yang sedang dalam masa transisi kepemimpinan Raja Charles III. Implikasi jangka panjang dari publikasi ini dapat mencakup pergeseran persepsi publik terhadap legitimasi dan peran institusi kerajaan, serta memicu tuntutan yang lebih besar untuk transparansi dan akuntabilitas di masa mendatang. Istana harus berhati-hati dalam menanganinya, sebab kebisuan bisa diartikan sebagai pengakuan.