Gloria Steinem Wafat di 92 Tahun: Sang Ikon Feminisme Dunia Berpulang

Angel Doris Angel Doris 03 Sep 2026 23:00 WIB
Gloria Steinem Wafat di 92 Tahun: Sang Ikon Feminisme Dunia Berpulang
Ilustrasi: Gloria Steinem Wafat di 92 Tahun: Sang Ikon Feminisme Dunia Berpulang

NEW YORK – Dunia kehilangan salah satu suara paling berpengaruh dalam perjuangan kesetaraan gender. Gloria Steinem, penulis ulung, jurnalis investigatif, dan ikon pergerakan feminisme global, mengembuskan napas terakhirnya di kediamannya di New York pada usia 92 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi jutaan orang yang terinspirasi oleh dedikasi tak tergoyahkan untuk hak-hak perempuan.

Steinem, yang lahir pada tahun 1934, telah menjadi mercusuar bagi gerakan feminisme sejak dekade 1960-an. Kiprahnya dimulai dari jurnalisme, tempat ia secara berani menyingkap ketidakadilan gender melalui tulisan-tulisannya yang tajam dan provokatif. Ia dikenal luas karena artikelnya yang menyamar sebagai kelinci Playboy pada tahun 1963, sebuah investigasi yang mengungkap kondisi eksploitatif perempuan di klub tersebut.

Peran pentingnya dalam mendirikan majalah Ms. pada tahun 1972 menandai babak baru dalam media feminis. Majalah ini bukan sekadar publikasi, melainkan platform vital yang memberdayakan perempuan, menyuarakan isu-isu penting, dan menantang norma patriarki. Di bawah kepemimpinannya, Ms. menjadi corong utama bagi gagasan-gagasan progresif tentang kesetaraan.

Sepanjang hidupnya, Steinem tidak pernah berhenti berjuang. Ia aktif dalam berbagai inisiatif politik dan sosial, termasuk keterlibatannya dalam National Womens Political Caucus yang bertujuan meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik. Ia juga seorang advokat vokal untuk hak reproduksi, reformasi pendidikan, dan keadilan sosial bagi semua kelompok marjinal.

Warisan pemikiran Steinem terukir dalam berbagai buku dan esainya. Karyanya seperti Outrageous Acts and Everyday Rebellions dan Revolution from Within: A Book of Self-Esteem telah menginspirasi generasi perempuan untuk menemukan suara mereka, memahami kekuatan kolektif, dan menuntut hak-hak yang setara.

Kehadirannya di panggung publik selalu mencuri perhatian, bukan hanya karena gagasannya, tetapi juga karena karisma dan kemampuan komunikasinya yang luar biasa. Ia mampu menjelaskan konsep-konsep kompleks tentang patriarki dan penindasan dengan cara yang mudah dipahami, menjangkau audiens yang luas dari berbagai latar belakang.

Banyak aktivis perempuan masa kini mengakui Steinem sebagai mentor dan pelita. Pendekatan Steinem yang memadukan aktivisme akar rumput dengan pengaruh media menjadikannya strategi efektif untuk perubahan sosial yang berkelanjutan. Ia menunjukkan bahwa perubahan bukan hanya tentang demonstrasi besar, tetapi juga tentang mengubah narasi dan kesadaran publik.

Penting untuk diingat bahwa perjuangan Steinem tidak terbatas pada ranah Amerika Serikat saja. Ia merupakan sosok global yang gagasannya meresonansi di berbagai belahan dunia, menginspirasi gerakan perempuan di Eropa, Asia, hingga Afrika untuk menuntut hak-hak dasar mereka.

Meskipun fisiknya telah tiada, gagasan dan semangat Gloria Steinem akan terus hidup. Perjalanan panjangnya dari seorang jurnalis muda menjadi salah satu figur paling dihormati dalam sejarah modern feminisme adalah bukti nyata kekuatan individu dalam mengubah dunia.

Dunia aktivisme dan intelektual mengenang Gloria Steinem sebagai pahlawan yang tak kenal lelah, yang berani menantang status quo dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih adil dan setara bagi semua. Kepergiannya menjadi pengingat akan pentingnya meneruskan perjuangan yang telah ia mulai dengan begitu gigih, mirip dengan warisan pemikiran mendalam yang ditinggalkan penulis seperti Oriana Fallaci.

Analisis Redaksi: Wafatnya Gloria Steinem pada tahun 2026 menandai berakhirnya era penting dalam gerakan feminisme global. Namun, warisan intelektual dan aktivismenya akan terus menjadi pilar inspirasi. Ke depan, tantangan kesetaraan gender mungkin akan bergeser, tetapi prinsip-prinsip yang diperjuangkan Steinem—kesadaran diri, solidaritas, dan penolakan terhadap penindasan—akan tetap relevan sebagai fondasi bagi generasi aktivis baru. Perannya sebagai jurnalis yang berani membongkar realitas patut menjadi teladan bagi media masa kini untuk terus menyuarakan kebenaran.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.ansa.it
Angel Doris

Tentang Penulis

Angel Doris

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad