BERLIN — Influencer salafi Hanna Hansen menuai kecaman luas di Jerman setelah menyebarkan teori konspirasi tak berdasar mengenai serangan CSD Berlin 2026. Ia secara provokatif menuding insiden tragis itu sebagai 'inside job' yang dirancang untuk memicu propaganda anti-Islam, sebuah klaim yang telah memancing kemarahan publik dan bantahan keras dari para ahli Islam.
Pernyataan kontroversial Hanna Hansen ini muncul beberapa waktu setelah tragedi yang mengguncang perayaan CSD (Christopher Street Day) di Berlin tahun 2026, di mana keamanan dan kohesi sosial Jerman diuji secara serius. Klaimnya, yang disebarkan melalui berbagai platform media sosial, dengan cepat menjadi viral, memicu perdebatan sengit tentang penyebaran disinformasi dan ujaran kebencian di ruang digital.
Menurut Hansen, serangan CSD itu bukan sekadar tindakan terorisme, melainkan sebuah plot tersembunyi yang bertujuan untuk memperburuk citra komunitas Muslim di Jerman. Ia berargumen bahwa insiden tersebut sengaja direkayasa demi menciptakan narasi yang menghasut sentimen publik agar lebih berhati-hati terhadap umat Islam.
Seorang pakar Islam terkemuka, Profesor Dr. Ahmad K. Müller dari Universitas Hamburg, menanggapi pernyataan Hansen dengan tegas. “Menyebarkan teori konspirasi semacam ini pasca tragedi adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab,” ujar Prof. Müller. Ia menekankan bahwa klaim tersebut tidak hanya tanpa bukti, tetapi juga merusak upaya mempromosikan pemahaman dan dialog antaragama.
Prof. Müller menambahkan bahwa narasi semacam itu justru membahayakan upaya deradikalisasi dan integrasi yang telah susah payah dibangun. “Ini memberikan amunisi bagi ekstremis dari kedua belah pihak, menghalangi penyelesaian masalah terorisme yang sebenarnya,” jelasnya, menyoroti kompleksitas upaya deradikalisasi yang sering menghadapi tantangan.
Reaksi keras tidak hanya datang dari kalangan akademisi. Tokoh masyarakat dan organisasi sipil Jerman juga mengecam keras ulah Hanna Hansen. Mereka menyerukan agar platform media sosial bertindak lebih tegas dalam menindak konten-konten yang menyebarkan kebencian dan disinformasi, terutama yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Serikat Polisi Jerman, pasca teror CSD Berlin 2026, sebelumnya telah mendesak penarikan tokoh-tokoh Islamis yang dianggap menyebarkan ideologi berbahaya. Kasus Hansen menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban publik dari ancaman ekstremisme ideologis.
Latar belakang serangan CSD Berlin sendiri adalah sebuah insiden kompleks yang telah diselidiki secara mendalam oleh pihak berwenang. Pelaku yang tewas dalam insiden tersebut diketahui memiliki riwayat upaya bergabung dengan kelompok teroris ISIS, sebuah fakta yang secara jelas menampik klaim 'inside job' yang disuarakan Hansen.
Penyelidikan atas serangan CSD telah mengungkap beberapa kejanggalan dalam penanganan awal, memicu pertanyaan mengenai efektivitas sistem intelijen Jerman. Namun, kejanggalan administratif tidak sama dengan konspirasi tingkat tinggi yang dituduhkan oleh influencer tersebut.
Pemerintah Jerman, melalui juru bicaranya, telah berulang kali menegaskan komitmen untuk melawan segala bentuk terorisme dan ekstremisme, tanpa memandang latar belakang ideologis. Mereka juga menyerukan kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang berusaha memecah belah bangsa.
Kontroversi ini juga mengingatkan kembali pada situasi di mana ancaman teror Islamis memang pernah menghantui perayaan CSD di tahun-tahun sebelumnya, menggarisbawahi urgensi kewaspadaan tanpa jatuh ke dalam perangkap generalisasi atau teori konspirasi yang kontraproduktif.
Pada akhirnya, insiden CSD Berlin 2026 tetap menjadi titik fokus diskusi tentang bagaimana masyarakat Jerman dapat menjaga kebebasan berekspresi sekaligus melawan ekstremisme. Peran media sosial dalam menyebarkan informasi dan disinformasi akan terus menjadi sorotan utama dalam upaya tersebut.