Ekonom dan pakar kebahagiaan terkemuka, Reto Odermatt, baru-baru ini mengguncang pemahaman umum tentang kebahagiaan dalam kepemilikan rumah. Penelitiannya pada tahun 2026 mengungkap sebuah paradoks mengejutkan: pembangunan sebuah villa yang lebih besar dan mewah di suatu lingkungan justru menyebabkan penurunan signifikan dalam tingkat kepuasan penghuni rumah di sekitarnya terhadap properti mereka sendiri. Temuan ini menyoroti bagaimana perbandingan sosial dan "ilusi fokus" secara fundamental memengaruhi persepsi kebahagiaan.
Studi Odermatt yang berbasis data ekonomi ini secara teliti mengukur korelasi antara skala dan kemewahan hunian tetangga dengan tingkat kepuasan individu terhadap rumah pribadinya. Ia menemukan bahwa ketika sebuah hunian raksasa muncul di tengah komunitas, warga di sekitarnya, yang sebelumnya merasa cukup puas, mulai mengevaluasi ulang nilai dan estetika tempat tinggal mereka dengan standar yang baru dan lebih tinggi.
Fenomena ini, menurut Odermatt, bukan sekadar soal iri hati, melainkan refleksi dari "ilusi fokus" yang melanda pikiran manusia. "Kita cenderung melebih-lebihkan dampak suatu hal yang baru atau menonjol terhadap kebahagiaan kita, sambil mengabaikan faktor-faktor penting lainnya yang telah lama menyokong kepuasan kita," ujar Odermatt dalam sebuah diskusi akademik tahun ini.
Ilusi fokus menyebabkan individu mengalihkan perhatian dari kualitas intrinsik rumah mereka—seperti kenyamanan, memori, atau fungsi—menuju perbandingan eksternal yang mencolok. Villa megah tetangga menjadi titik fokus yang membuat rumah sendiri terasa kurang, meskipun tidak ada perubahan objektif pada properti tersebut.
Odermatt menjelaskan bahwa konsep ini memiliki implikasi luas, tidak terbatas pada kepemilikan properti. "Kita seringkali salah memperkirakan apa yang benar-benar membuat kita bahagia. Seringkali, apa yang kita duga akan membawa kebahagiaan besar justru hanya memberikan dampak sesaat atau bahkan negatif dalam jangka panjang," paparnya.
Sebagai contoh, banyak orang percaya bahwa kenaikan gaji besar akan secara permanen meningkatkan kebahagiaan mereka. Namun, penelitian menunjukkan bahwa setelah periode penyesuaian awal, tingkat kepuasan seringkali kembali ke baseline, terutama jika mereka mulai membandingkan pendapatan mereka dengan kolega yang lebih sukses.
Dalam konteks perumahan, aspirasi untuk memiliki rumah yang lebih besar atau lebih mewah mungkin didorong oleh ekspektasi kebahagiaan yang berlebihan. Individu mungkin berinvestasi besar-besaran, hanya untuk menemukan bahwa kebahagiaan yang diharapkan tidak sebanding dengan beban finansial atau pemeliharaan yang menyertainya.
Penelitian ini juga menyiratkan perlunya pendekatan yang lebih bijaksana dalam perencanaan kota dan pengembangan komunitas. Ketika desain urban terlalu menekankan pada pertumbuhan vertikal atau pembangunan properti super-mewah tanpa mempertimbangkan dampak sosial, potensi ketidakpuasan masyarakat dapat meningkat.
Hasil riset Odermatt menawarkan sudut pandang krusial bagi para pembuat kebijakan dan pengembang properti di seluruh dunia pada tahun 2026. Prioritas seharusnya bukan hanya pada menciptakan hunian yang berlimpah, melainkan juga pada membangun komunitas yang mempromosikan kepuasan dan kesejahteraan psikologis.
Oleh karena itu, mencari kebahagiaan sejati dalam hunian mungkin tidak terletak pada ukuran atau kemewahan, melainkan pada bagaimana individu mampu mengapresiasi nilai-nilai internal rumah mereka dan menolak perangkap perbandingan sosial yang didorong oleh "ilusi fokus." Paradoks ini menantang kita untuk mendefinisikan ulang apa arti rumah yang membahagiakan.