ROMA – Sebuah karya monumental terbaru dari sejarawan seni Stella Maresca, berjudul Street Art a Roma, berhasil menguak tabir sejarah seni jalanan yang selama ribuan tahun terukir di jantung ibu kota Italia. Buku yang diluncurkan pada awal tahun 2026 ini merevolusi pemahaman publik tentang seni mural, menunjukkan bahwa fenomena tersebut bukanlah kreasi modern semata, melainkan memiliki akar mendalam sejak peradaban Romawi kuno hingga ekspresi kontemporer yang kini menghiasi setiap sudut kota.
Selama ini, seni jalanan seringkali dipersepsikan sebagai fenomena baru, buah dari subkultur abad ke-20. Namun, riset ekstensif yang dilakukan oleh Maresca membuktikan bahwa hasrat manusia untuk meninggalkan jejak visual di ruang publik telah menjadi bagian integral dari identitas urban Roma sejak masa Kaisar hingga era Republik modern.
Penelitian Maresca secara cermat mendokumentasikan bagaimana grafiti dan tulisan tangan pada dinding-dinding reruntuhan Pompeii dan Roma kuno berfungsi sebagai bentuk ekspresi publik. Jejak-jejak ini, dari slogan politik sederhana hingga deklarasi cinta, merefleksikan kehidupan sehari-hari dan aspirasi masyarakat Romawi, serupa dengan pesan yang disampaikan seniman jalanan masa kini.
Transformasi seni dinding terus berlanjut sepanjang Abad Pertengahan dan Renaisans, meski dengan konotasi dan tujuan yang berbeda. Dari fresko religius yang menghiasi eksterior gereja hingga simbol-simbol klan pada dinding bangunan, seni di ruang publik selalu menjadi bagian dari narasi visual kota yang berkembang.
Barulah pada abad ke-20 dan 21, dengan munculnya bom semprot dan cat akrilik, seni jalanan modern seperti yang kita kenal berkembang pesat. Ini menjadi medium bagi seniman untuk menyuarakan protes, menyampaikan pesan sosial, atau sekadar memperindah area urban yang sering terlupakan.
Maresca menerapkan pendekatan interdisipliner, menggabungkan metode arkeologi, sejarah seni, dan sosiologi urban. Ia tidak hanya menganalisis artefak visual, tetapi juga menelaah konteks sosial, politik, dan budaya di balik setiap goresan dan warna yang membingkai narasi sejarah seni jalanan Roma.
Dalam bukunya, Maresca menyoroti beberapa contoh mengejutkan, seperti grafiti kuno di dekat Forum Romawi yang secara tematik memiliki resonansi kuat dengan mural politik kontemporer di Trastevere. Kita cenderung melihat sejarah secara terpisah, padahal benang merah ekspresi artistik di ruang publik selalu ada, hanya bentuknya yang berevolusi, ujar Maresca dalam sebuah wawancara.
Publikasi ini disambut antusias oleh komunitas seni dan sejarawan, yang melihatnya sebagai langkah maju dalam melegitimasi seni jalanan sebagai bentuk seni yang serius dan memiliki sejarah panjang. Ini juga membantu mengikis stigma negatif yang kerap melekat pada karya-karya urban.
Bagi kota Roma sendiri, penemuan ini semakin memperkaya khazanah budayanya. Keberadaan seni jalanan modern kini dapat dilihat sebagai kelanjutan tradisi yang telah lama ada, bukan lagi sebagai anomali. Hal ini juga berpotensi meningkatkan daya tarik wisata, menawarkan perspektif baru bagi wisatawan yang ingin menjelajahi kota di luar situs-situs bersejarah ikonik. (Baca juga: Misteri Malam Colosseum Roma Ludes!).
Penelitian ini juga menimbulkan pertanyaan penting mengenai konservasi. Bagaimana melestarikan karya seni jalanan yang bersifat sementara, baik dari masa lalu maupun masa kini, agar generasi mendatang dapat terus mengapresiasi warisan visual kota yang dinamis ini?
Kontribusi Stella Maresca dengan bukunya tidak hanya mengisi kekosongan dalam literatur sejarah seni, tetapi juga memicu dialog lebih luas tentang peran seni dalam membentuk identitas kota dan masyarakatnya. Ini merupakan sebuah undangan untuk melihat dinding-dinding kota bukan hanya sebagai pembatas, melainkan sebagai kanvas abadi yang menceritakan kisah.
Fenomena ini selaras dengan upaya pengembalian dan pelestarian karya seni di berbagai wilayah Italia, seperti yang terjadi pada kasus penemuan karya seni yang sempat hilang di Parma, menunjukkan betapa kayanya warisan artistik Italia.
Analisis Redaksi: Buku Street Art a Roma menandai pergeseran paradigma dalam studi seni urban. Dengan menghubungkan ekspresi visual kuno dan kontemporer, Maresca telah menyediakan kerangka kerja yang kuat untuk memahami evolusi seni jalanan. Dampaknya akan melampaui dunia akademis, mendorong pemerintah kota dan masyarakat untuk melihat seni jalanan bukan sebagai masalah, melainkan sebagai aset budaya yang berharga, patut diapresiasi dan mungkin pula dilestarikan. Hal ini berpotensi membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata budaya dan revitalisasi urban yang lebih inklusif.