Belanda Beraksi: Tato Paksa Kekerasan Pasangan Kini Dihapus Gratis

Debby Wijaya Debby Wijaya 29 Jul 2026 23:59 WIB
Belanda Beraksi: Tato Paksa Kekerasan Pasangan Kini Dihapus Gratis
Ilustrasi: Belanda Beraksi: Tato Paksa Kekerasan Pasangan Kini Dihapus Gratis

AMSTERDAM — Di tengah upaya global memerangi kekerasan domestik, para korban di Belanda kini menemukan secercah harapan. Sebuah inisiatif kemanusiaan yang digagas yayasan “Spijt van Tattoo” menawarkan program penghapusan tato secara gratis bagi perempuan yang dipaksa menorehkan tanda oleh pasangan atau mantan pasangan yang melakukan kekerasan. Program ini menjadi jembatan penting menuju pemulihan psikologis dan fisik bagi para penyintas kekerasan, mengembalikan kemandirian atas tubuh mereka.

Tato paksa seringkali bukan sekadar gambar di kulit; ia adalah manifestasi fisik dari kontrol, dominasi, dan trauma mendalam yang dialami korban. Banyak perempuan yang disiksa secara emosional dan fisik dipaksa untuk mengukir nama, simbol, atau bahkan pesan merendahkan yang menjadi pengingat konstan akan penderitaan mereka. Jejak permanen ini terus menghantui, bahkan setelah hubungan yang abusif berakhir, menghambat proses penyembuhan.

Yayasan Spijt van Tattoo, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Menyesal Bertato”, berdiri sebagai mercusuar harapan. Organisasi nirlaba ini berkomitmen untuk membantu individu yang menderita akibat tato yang tidak diinginkan, khususnya mereka yang terpaksa bertato karena situasi kekerasan. Melalui perawatan laser canggih, yayasan ini menyediakan layanan penghapusan tato tanpa biaya, menghilangkan beban finansial yang seringkali menjadi kendala bagi para korban.

“Setiap tato paksa adalah babak kelam dalam hidup seseorang. Kami ingin membantu mereka menutup babak itu, tidak hanya dari kulit mereka, tetapi juga dari ingatan traumatik mereka,” ujar Anna ter Haar, Direktur Program Spijt van Tattoo, dalam sebuah wawancara pada awal tahun 2026. “Ini bukan hanya tentang estetika; ini tentang merebut kembali identitas, martabat, dan kebebasan mereka.”

Dampak psikologis dari tato paksa tidak dapat diremehkan. Para korban seringkali melaporkan perasaan malu, ketidakberdayaan, dan kesulitan untuk kembali membangun kehidupan normal. Tato yang menjadi ‘cap’ dari hubungan toksik tersebut secara terus-menerus memicu kembali ingatan traumatis, memperparah gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan kecemasan.

Inisiatif di Belanda ini mendapat apresiasi luas dari berbagai organisasi hak asasi manusia dan lembaga perlindungan perempuan. Mereka melihat program ini sebagai langkah konkret dalam mendukung pemulihan holistik para penyintas kekerasan. Hal ini melengkapi upaya lain yang berfokus pada dukungan hukum, psikologis, dan tempat perlindungan.

Proses penghapusan tato dengan laser, meskipun efektif, membutuhkan beberapa sesi dan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun, bagi para korban, biaya dan potensi ketidaknyamanan tersebut sebanding dengan kelegaan yang didapatkan. Mereka melihatnya sebagai investasi dalam masa depan tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan.

Sejak diluncurkan, program ini telah membantu puluhan perempuan di berbagai kota di Belanda untuk memulai perjalanan penyembuhan mereka. Cerita-cerita tentang keberanian dan ketangguhan mereka menjadi inspirasi, mendorong lebih banyak korban untuk maju mencari bantuan dan dukungan yang tersedia.

Langkah Spijt van Tattoo menegaskan pentingnya perhatian terhadap aspek-aspek kekerasan yang sering terabaikan. Ini bukan hanya tentang luka fisik yang terlihat, tetapi juga tentang luka emosional yang terukir, serta bagaimana masyarakat dapat berperan aktif dalam membantu korban meraih kembali kehidupan yang layak dan merdeka.

Pemerintah Belanda dan lembaga terkait diharapkan dapat terus mendukung inisiatif semacam ini, memperluas jangkauan layanan agar lebih banyak korban kekerasan domestik dapat mengakses bantuan. Dengan solidaritas dan dukungan yang kuat, para penyintas dapat benar-benar membebaskan diri dari belenggu masa lalu dan menatap masa depan dengan harapan baru.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.ansa.it
Debby Wijaya

Tentang Penulis

Debby Wijaya

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad